Anak kolong biasa disematkan pada anak yang dibesarkan di tangsi tentara. Disebut demikian karena terpaksa tidur di bawah dipan, kolong bawah tempat tidur, karena keterbatasan ruang. Istilah yang muncul sejak era Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) ini terus dipakai sampai sekitar 1980-an saat kehidupan keluarga Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) masih serba prihatin.

Walau begitu saya justru bersyukur dilahirkan dan dibesarkan di tempat demikian. Disiplin dan kerja keras menjadi menu tiap hari yang dijejalkan ke anak bebal seperti saya ini. Makan, mandi, dan segala perikehidupan diatur dengan bagian yang adil dan merata. Bahkan lebih, Bapak yang masih Madura tulen mengajari saya silat. Kalau tidak ingin kelaparan, berlatih silat dulu.

Setidaknya sampai remaja saya menjalani kehidupan sebagai anak kolong. Mulai duduk di bangku menengah atas, kami telah memiliki rumah sendiri. Namun, berbagai perangai disiplin dan kerja keras terbawa sampai ke rumah. Kami bahkan tidak memerlukan pembantu karena semua pekerjaan rumah bisa beres, sekalipun dengan kesibukan masing-masing. Ibu biasa menghidangkan sarapan pukul 5 pagi. Kami pun telah siap menyantap sarapan dengan pakaian rapi dan badan harum selepas mandi. Tidak ada acara harus dioprak-oprak atau diguyur air seember. Bangun sebelum subuh seperti telah terpatri dalam kesadaran kami.

Masih terbesit di ingatan saat Bapak menginginkan saya masuk di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Tidak mengherankan, Bapak seorang Korps Brimob, tentu ingin anak lelakinya meneruskan jejaknya mengabdi pada negara sebagai angkatan bersenjata. Menjadi ABRI untuk pemuda di era itu merupakan idaman. Apalagi saya, seorang anak dari Korps Brimob yang tentu akan lebih mulus jalannya melenggang menjadi jenderal sekalipun.

Namun, saya memilih jalan lain. Dunia pertanian lebih menarik minat saya. UPN Veteran Yogyakarta menjadi tempat saya melabuhkan mimpi. Di situlah saya mengenal dunia lingkungan yang ternyata belum dioptimalkan dengan baik.

Sekalipun bukan universitas mentereng macam UGM atau ITB, saya berhasil meniti karir dengan berbagai lika-likunya. Wilayah kerja saya berpindah-pindah mengikuti istri yang kebetulan jabatannya lebih tinggi. Sejujurnya saya tidak merasa malu. Menurut saya justru di situlah letak kelelakian seseorang, saat ia harus berlapang hati membuat keputusan terbaik untuk keluarga. Bukannya yang keras kepala mau menangnya sendiri.

Waktu bertugas di Departemen Kehutanan Bali, masih teringat betul para pegawai terbagi menjadi dua blok saat libur lebaran tiba. Ada blok timur, artinya alumni UGM; dan blok barat, alumni ITB. Tidak bisa dipungkiri Departemen Kehutanan memang didominasi oleh dua universitas mentereng tersebut. Saya menjadi non-blok, karena UGM bukan, ITB juga bukan. Maka tidak ada yang mengira anak kolong lulusan UPN ini bisa menjadi Dirjen Planologi, jabatan yang cukup bergengsi di antara direktorat lain di Kementerian Kehutanan. Menyingkirkan kandidat lain yang memiliki rekam jejak yang tidak kalah membanggakan.

Dari situlah saya merasa beruntung menjadi anak seorang Brimob. Berbekal kedisiplinan dan kerja keras yang ditanamkan sejak dini, menghantarkan saya pada puncak karir tempat saya mencurahkan peluh untuk bangsa ini. Sekalipun tidak berhasil mewujudkan keinginan Bapak menjadi Jenderal, sepertinya di alam baka sana Bapak justru tersenyum, karena saya berhasil melampaui keinginan beliau: Direktorat Jenderal. Jenderal dalam bentuk lain, sama-sama mengabdi pada nusa dan bangsa.

Dunia pertanian lebih menarik minat saya. UPN Veteran Yogyakarta menjadi tempat saya melabuhkan mimpi. Di situlah saya mengenal dunia lingkungan yang ternyata belum dioptimalkan dengan baik.