(Masih) Ngudar Rasa Tentang Upah di Jogja

(Masih) Ngudar Rasa Tentang Upah di Jogja

Sore menjelang malam, hari ini adalah dekat dengan akhir pekan. Seperti biasa, kami sekumpulan teman sejawat bertemu muka rutin paling lama dua minggu sekali. Masih ditempat ngopi biasa kami berlangganan dan bercengkerama tentang pahit manis kehidupan di Jogja. Menjadi pencari pundi-pundi uang disini kerap kali timpang dibangdingkan saat kami kuliah dulu. Memang jumlah nominalnya tidak adil jika dibandingkan dengan sekarang, ketika kami memang telah diakui kelulusannya lewat ijazah universitas (utamanya) kenamaan dikota pendidikan ini.

Kali ini tepat tengah bulan. Dua minggu pasca mereka yang gajian per tanggal satu, dan dua minggu menjelang mereka yang akan menerima remunerasi pada sekitar akhir bulan. Menjadi yang paling muda satu bulan, hingga mereka yang telah “setia” pada lembaga atau korporasi tempat kerjanya selama bertahun-tahun ternyata keluhannya sama. Benar, besaran gaji yang diterima tidak sebanding dengan biaya hidup disini yang kian waktu kian menanjak.

Diskusi kami berlanjut. Sebenarnya keluhan, penyampaian aspirasi baik yang bersifat lisan maupun yang secara resmi tertulis dalam analisis dalam tajuk akademik telah banyak diterbitkan. Namun nyatanya, besaran yang kami terima tetap “begitu-begitu saja”. Lantas, tidak adakah ruang kami untuk berkeluh kesah menyampaikan situasi kebutuhan-kebutuhan serta realitas terkait upah kerja kepada pihak yang berwenang? Tak terasa waktu beranjak malam, dan kami kali ini masih berkutat ngudo roso – bercurah hati tentang keadaan masing-masing kami.

 

Mengharap Lebih dari Didengar

Mungkin sudah waktunya pihak-pihak terkait turut pula menghitung antara upah minimum dengan biaya konsumsi di Jogja. Sebab telah akurat bahwa Yogyakarta menjadi daerah dengan UMP terendah di Indonesia. Menurut kami, hal demikian ironis. Sebab iklim kerja di Jogja begitu jamak namun jangan lantas disederhanakan bahwa pengeluaran oleh karena biaya hidup disini dengan istilah “murah”. Memang tak mudah disangkal, banyak yang merasakan bahwa makan minum di Jogja bayarnya tak seberapa dibandingkan kota-kota besar lainnya. Akan tetapi bagi pekerja di Jogja, tak adil juga jika mereka disejajarkan dengan idiom para turis yang sedang melancong disini.

Ahh namanya juga ngudo roso, ujungnya adalah besar harapan bahwa keluh kesah ini lebih dari situasi didengar. Utamanya pada mereka para legislator yang akan mengemban tanggung jawabnya untuk lima tahun mendatang. Kepada mereka yang nantinya terpilih, sepertinya bisa untuk memasukan ini dalam agenda kerja sehingga berimbas pada kebijakan penentuan upah para pekerja di Jogja.

Semoga Jogja makin waktu makin menyamankan banyak orang. Terakhir terkait upah para pekerja Jogja, semoga tidak sebatas pada kenaikan konstan tiap tahunnya.

Leave a comment