Glenak-glenik tentang Pegawai Negara

Glenak-glenik tentang Pegawai Negara

Setahun kemarin, Indonesia membuka lowongan besar-besaran penerimaan pegawai negerinya. Sepanjang waktu-waktu tersebut banyak pula kasak-kusuk kanan-kiri yang bergumul tentang diterima atau tidaknya keluarga kerabat dan sanak saudara menjadi dari seleksi. Mulai bulan ini, para pegawai negeri telah mulai bertugas sesuai posisi yang diterimakan kepada mereka.

Namun ternyata bagi sabagian orang, ceritanya tak sesederhana itu. Pertama bagi mereka yang tidak diterima, banyak protes dilakukan utamanya mereka yang merasa terjadi kejanggalan dalam prosesi penyaringan. Kedua bagi mereka yang diterima, tetap saja kadang ada cap miring terkait proses penerimaan.

Namun kali ini bukan cerita fiksi belaka, satu waktu saat kami bertemu berdiskusi pada sebuah kedai teh di daerah selokan mataram Jogja. Salah seorang teman kami memang bekerja pada sektor formal, dan kami memang sengaja memantik obrolan terkait penerimaan abdi negara. bukan tentang proses formal, atau kasak-kusuk maupun menggagas mereka yang sakit hati. Namun lebih kepada persepsi sosial masyarakat setempat tentang jabatan-jabatan tersebut.

Masih banyak ternyata yang “buta” demi mendapatkan posisi tersebut, bahkan tidak langsung diangkat menjadi pegawai tetap melainkan jabatan honorer. Kata seorang teman dengan ekspresi khasnya, “yang penting terlihat rapi meskipun belum berseragam, namun setidaknya berkantor di pemerintahan.” Ironisnya lagi, remunerasi yang didapatkan jauh tidak sebanding dengan modal urusan “administrasi” yang dikeluarkan supaya mereka dapat diterima jadi “pegawai lepas” tersebut. Kami malam itu mengistilahkannya dengan klausa “glenak-glenik tentang pegawai negara”.

Namun pembicaraan kami move on dengan cepat, lebih lanjut mengetengahkan sisi prestisius dari posisi-posisi tersebut. Kata seorang dari kami melanjutkan bahwasannya masih terjadi standar sosial bahwa pegawai negeri menjadi yang nomor wahid pekerjaan paling terhormat. Tapi tunggu, benarkah hal demikian juga disepakati di Jogja? Ditengah dengungan predikat istimewa yang belakangan ini bahkan coba diejawantahkan lewat program pelaksanaan sektor informal secara khas pada daerah-daerah tertentu.

Jadikanlah Menarik

Nah ketika sudah sampai pada tahapan ini, kami pikir saat itu pemerintah mesti turut serta membangun dan mempopulerkan peluang kerja seperti diatas. Seorang caleg nomor 24 kami pandang menjadi yang paling vokal mengungkapkan komitmennya tersebut. Menarik kami pikir, sebab hegemoni pekerjaan tak semestinya membuat orang lantas tutup mata terhadap peluang mencari nafkah dengan cara lainnya. Bambang Soepijanto mengagas ide ini, bahwa keistimewaan Jogja dapat diturunkan lewat program peningkatan sesuai dengan karakteristik kewilayahannya masing-masing. Sehingga ketika demikian situasi yang terjadi nanti, mata pencaharian yang berpangkal pada keistimewaan menjadi nilai lebih dari sekedar predikat Yogyakarta. Menarik untuk ditunggu.

Leave a comment